Askep
pada pasien hemothoraks
dosen : nunung f.
sitepu,s.Kep,Ns,Mns
D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
PSIK
II A
Ø AHMAD
FAQIH MUNTAHA (12.11.005)
Ø DORYANTI
RAJAGUKGUK (12.11.021)
Ø KHOIRON
(12.11.041)
Ø MANTOMI
SINAGA (12.11.049)
Ø RISKA
FAHRUNISA (12.11.066)
Ø SITI
PARIDAH (12.11.074)
Ø VIVIYANI
LUMBANGAOL (12.11.089)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKes MEDISTRA LUBUK PAKAM
LAPORAN PENDAHULUAN
1.1.Pengertian
Hemothorak adalah adanya darah yang masuk ke area pleural (antara pleura viseralis dan pleura parietalis) atau adanya kumpulan darah didalam ruang antara dinding dada dan paru-paru (rongga pleura). Hemotoraks masif adalah terkumpulnya darah dengan cepat lebih dari 1500 cc di dalam rongga pleura. Hemotoraks masif sering disebabkan oleh luka tembus yang merusak pembuluh darah sistemik atau pembuluh darah pada hilus paru.
1.2.Etiologi
Trauma dada kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang akan menyebabkan ruda paksa tumpul pada rongga thorak (Hemothorak) dan rongga Abdomen. Trauma tajam dapat disebabkan oleh tikaman dan tembakan. Penyebab lain dari hemothorak adalah laserasi paru atau laserasi dari pembuluh darah intercostal atau arteri mamaria interna yang disebabkan oleh cederatajam atau cedera tumpul. Dislokasi fraktur vertebra torakal juga dapat menyebabkan hemothoraks. Biasanya perdarahan bisa berhenti spontan dan tidak memerlukan intervensi operasi. Dan secara umum etiologi hemothorak dapat dibedakan menjadi dua(2) yaitu:
Ø Traumatik
1. Trauma tumpul
2. Trauma tembus (termasuk
iatrogenik)
Ø Nontraumatik / spontan
1. Neoplasma
2. komplikasi antikoagulan
3. emboli paru dengan infark
4. robekan adesi pleura yang
berhubungan dengan pneumotoraks spontan
5. Bullous emphysema
6. Nekrosis akibat infeksi
7. Tuberculosis
8. fistula arteri atau vena
pulmonal
9. telangiectasia hemoragik
herediter
10. kelainan vaskular intratoraks
nonpulmoner (aneurisma aorta pars thoraxica, aneurisma arteri mamaria interna)
11. sekuestrasi intralobar dan
ekstralobar
12. patologi abdomen ( pancreatic
pseudocyst, splenic artery aneurysm, hemoperitoneum)
Catamenial
1.3.Patofisiologi
Pada trauma tumpul dada,
tulang rusuk dapat menyayat jaringan paru-paru atau arteri, menyebabkan darah
berkumpul di ruang pleura. Benda tajam seperti pisau atau peluru menembus
paru-paru. Mengakibatkan pecahnya membran serosa yang melapisi atau menutupi
thorak dan paru-paru. Pecehnya membran ini memungkinkan masuknya darah ke
rongga pleura. Setiap sisi thorak dapat menahan 30-40% dari volume darah
seseorang. Dan untuk hemotoraks traumatik:trauma menyebabkan laserasi pembuluh darah
atau struktur parenkim paru sehingga terjadi
perdarahan mengakibatkan darah berakumulasi di rongga pleura yang
menyebabkan terjadinya hemotoraks
1.4.Gejala / tanda klinis
Hemothorak tidak menimbulkan nyeri
selain dari luka yang berdarah di dinding dada. Luka di pleura viseralis
umumnya juga tidak menimbulkan nyeri. Kadang-kadang anemia dan syok hipovalemik
merupakan keluhan dan gejala yang pertama muncul.Secara klinis pasien
menunjukan distress pernapasan berat, agitasi, sianosis, tahipnea berat, tahikardia
dan peningkatan awal tekanan darah, di ikuti dengan hipotensi sesuai dengan
penurunan curah jantung.Perdarahan ke dalam rongga pleura bisa terjadi dengan
gangguan di mana saja dari jaringan dinding dada dan pleura atau struktur
intratoraks.Respon fisiologis yang terjadi pada hemotoraks bermanifestasi pada
2 area utama: hemodinamik dan respiratorik. Tinggkat respon hemodinamik
ditentukan oleh jumlah dan kecepatan hilangnnya darah. Perdarahan hingga 750 mL
biasanya belum mengakibatkan perubahan hemodinamik. Perdarahan 750-1500 mL akan
menyebabkan gejala gejala awal syok (takikardi, takipneu, TD turun)
ü
Sesak napas
Adanya darah atau akumulasi cairan di dalam rongga pleura mengakibatkan pengembangan paru terhambat sehingga pertukaran udara tidak adekuat lalu terjadi sesak napas. Darah atau akumulasi cairan di dalam rongga pleura menyebabkan pengembangan paru terhambat sehingga pertukaran udara tidak adekuat yang menimbulkan kompensasi tubuh yang menyebabkan
takipneu dan peningkatan usaha bernapas dan terjadinya sesak napas
ü
Takikardia
Kehilangan darah menyebabkan kekurangan volume darah sehingga Cardiac output menurun yang mengakibatkan hipoksia dan takikardia
ü
Takipneu
Akumulasi darah pada pleura akan mengakibatkan hambatan pernapasan sehingga
reaksi tubuh meningkatkan usaha napasyang menyebabkan takipneu.
Kehilangan darah menyebabkan penurunan volume darahsehingga Cardiac
output menurun sehingga terjadi hipoksia dan kompensasi tubuh sehingga terjadi takipneu
ü
Penurunan tekanan darah
Kehilangan darah menyebabkan volume darah menurun sehingga Cardiac output lalu TD menurun
ü
Perkusi pekak
Akumulasi darah pada rongga pleura menyebabkan suara pekak saat diperkusi
(Suara pekak timbul akibat carian atau massa padat)
ü
Suara napas lemah sampai hilang
Suara napas adalah suara yang terdenger akibat udara yang keluar dan masuk
paru saat bernapas. Adanya darah dalam rongga pleura menyebabkan pertukaran udara tidak
berjalan baik sehingga suara napas berkurang atau hilang.
ü
Deviasi trakea
Akumulasi darah yang banyak sehingga menekan struktur sekitar yang mendorong trakea ke arah kontralateral
ü
Fibrothorax
Hemothorax tidak diatasi sehingga terjadi deposisi fibrin yang mengikat permukaan pleura parietal dan
visceral sehingga paru tidak bisa
mengembang secara sempurna dan terjadi trapped lung
ü Kulit pucat:
kehilangan banyak darah menyebabkan vasokonstriksi perifer sehingga pewarnaan kulit oleh darah berkurang
ü
Sianosis
Hemotoraks menyebabkan paru sulit mengembang sehingga kerja paru terganggu menyebabkan kadar O2 dalam darah menurun.
1.5.Pembagian Hemothorak
a) Hemothorak Kecil : yang tampak sebagian
bayangan kurang dari 15 % pada foto rontgen, perkusi pekak sampai iga IX.
b) Hemothorak Sedang : 15 – 35 % tertutup bayangan
pada foto rontgen, perkusi pekak sampai iga VI.
c) Hemothorak Besar : lebih 35 % pada foto
rontgen, perkusi pekak sampai cranial, iga IV.
1.6.Pemeriksaan
diagnostik
a.
Sinar X dada : menyatakan
akumulasi udara / cairan pada area pleura, dapat menunjukan penyimpangan struktur
mediastinal (jantung)
b.
AGDA
: Variabel tergantung dari derajat fungsi paru yang dipengeruhi, gangguan
mekanik pernapasan dan kemampuan mengkompensasi. PaCO2 kadang-kadang meningkat.
PaO2 mungkin normal atau menurun, saturasi oksigen biasanya menurun.
c.
torasentesis
: menyatakan darah/cairan serosanguinosa (hemothorak).
d.
Hb : mungkin menurun,
menunjukan kehilangan darah.
1.7.Prognosis
Apabila dibiarkan tidak
dirawat, akumulasi darah akan sampai pada titik dimana mulai menekan mediastinum dan
trakea
1.8.Komplikasi
Ø Pengeringan yang inkomplit
akibat pemasangan tuba yang tidak tepat
Ø Sekitar 20% pasien yang
menjalani torakostomi tuba akan memiliki bekuan darah residual dalam rongga
toraks, dan hampir separuh dari angka ini perlu operasi untuk drainase.
Ø Reexpansion
pulmonary edema
Ø Empyema
Ø Fibrothorax dan trapped lung
1.9.Penatalaksanaan
a)
Hemothorak kecil : cukup diobservasi, gerakan aktif (fisioterapi) dan tidak
memerlukan tindakan khusus.
b)
Hemothorak sedang : di pungsi dan penderita diberi transfusi. Dipungsi sedapat
mungkin dikeluarkan semua cairan. Jika ternyata kambuh dipasang penyalir sekat
air.
c)
Hemothorak besar : diberikan penyalir sekat air di rongga antar iga dan
transfusi.
Tujuan
pengobatan adalah untuk menstabilkan pasien, menghentikan pendarahan dan
menghilangkan darah dan udara dalam rongga pleura. Penanganan pada hemothoraks
adalah :
v Resusitasi
cairan
o Terapi
awal hemothoraks adalah dengan penggatian volume darah yang dilakukan bersamaan
dengan dekompresi rongga pleura. Dimulai dengan infus cairan kristaloid secara
cepat dengan jarum besar dan kemudidan pemberian darah dengan golongan darah
spesifik secepatnya. Darah dari rongga pleura dapat dikumpulkan dalam
penampungan yang cocok untuk auto transfusi. Bersamaan dengan pemberian infus
di pasang pula chest tube (selang dada)
v
Pemasangan chest tube (WSD)
o WSD
ukuran besar digunakan agar darah pada thoraks tersebut dapat cepat keluar
sehingga tidak membeku didalam pleura. Chest tube tersebut akan mengeluarkan
darah dari rongga pleura dan dapat dipakai dalam memonitor kehilangan darah
selanjutnya. Evaluasi darah/cairan juga memungkinkan dilakukannya penilaian terhadap
kemungkinan terjadinya ruptur diafragma traumatik. WSD adalah suatu sistem
drainase yang menggunakan air. Fungsi WSD sendiri adalah untuk mempertahankan
tekanan negatif interapleur/cavum pleura.
o Ada
dua macam WSD yaitu : WSD aktif (continius suction, gelembung berasal dari
udara sistem) dan WSD pasif (gelembung udara berasal dari cavum thoraks pasien.
o Pemasangan WSD :
o Selang
dada dapat bekerja sebagai drain untuk udara ataupun cairan. Untuk mengatasi
masalah-masalah gangguan pulmonal tersebut, selang dimasukkan kedalam rongga
pleura (antara pleura visceralis dan pleura parietalis) agar tekanan negatif
intera pleural kembali normal. Pada bedah jantung selang ditempatkan didala
perikardium atau mediastinum dibawah insisi stemotomi, selang dada diletakkan
ssebelu dilakukan sebelum penutupan sayatan pada pembedahan paru dan jantung
atau dilakukan ditempat tidur sebagai tindakan kedaruratan untuk mengatai
pneumothoraks atau hemothoraks
o Tujuan
pemasangan selang dada adalah untuk mengeluarkan udara, cairan atau keduanya
dari rongga thoraks.
v
Thoracotomy
o Thoracotomy
dilakukan bila dalam keadaan :
o Jika
pada awal pneumothorak sudah keluar 1500 ml, kemungkinan penderita tersebut
membutuhnkan thoracotomy segera.
o Pada
beberapa pasien pada awalnya darah yang keluar < 1500 ml, tetapi perdarahan
tetap berlangsung terus
o Bila
didapatkan kehilangan darah terus menerus sebanyak 200 cc/jam dalam waktu 2-4
jam
Luka
tembus thoraks didaerah anterior, medial dari garis puting susu atau luka
didaerah posterior, medial dan scapula harus dipertimbangkan kemungkinan
diperlukan thoracotomy, oleh karena kemungkinan melalui pembuluh darah besar,
struktur hilus atau jantung yang potensial menjadi temponade jantung. Transfusi darah diperlukan
selama ada indikasi untuk thoracotomy.
Selama penderita dilakukan resusitasi, volume darah awal yang dikeluarkan
dengan chest tube dan kehilangan darah selanjutnya harus ditambahkan kedalam
cairan pengganti yang akan diberikan. Warna darah (arteri dan vena) bukan
merupakan indikator yang baik untuk dipakai sebagaidasar dilakukan thoracotomy.
LAPORAN
KASUS
Kasus
:
Tn.A berumur 46 tahun mengalami penurunan kesadaran
sejak ± 3 hari yang lalu pada tanggal 23 Maret 2014 pukul 15.50 WIB. Awalnya
pasien mengalami kecelakaan kerja tertimpa mobil saat pasien sedang memperbaiki
mobil dibawah mobil tersebut. Riwayat
penurunan kesadaran(+), riwayat kejang(+), Refleks batuk (+) . GCS : 3 ( E:1 ;
M:1 ; V:1). Sebelumnya pasien telah dirawat di RS swasta di Medan. Pasien telah
dilakukan tindakan bilateral Thoracic
Drainage dan tracheostomy. NGT terpasang. IV line terpasang degan cairan
RL 20 gtt.
1.
Pengkajian
1.1.Riwayat
Keperawatan
v
Keluhan Utama: Berat,
GCS:3, kejang(+), sesak nafas(+)
v
Riwayat penyakit
sekarang: Bilateral Hemothorak , Respiratory sistem dan penurunan kesadaran
v
Riwayat keperawatan
terdahulu: tidak ada
v
Riwayat kesehatan
keluarga: tidak ada
1.2.Pemeriksaan
Fisik
Ø Kesadaran :
GCS = E1+M1+V1=3(koma)
Ø E1(Respon mmbuka mata) : tidak ada respon
Ø M1( Respon motorik) :
tidak ada respon
Ø V1( Respon Verbal) :
tidak ada respon
Ø Tekanan darah :
180/90 mmHg
Ø Nadi :
106 x/menit
Ø Suhu :
28 x/menit
Ø Pernapasan :
37,5 0C
Ø Kulit
:Turgor elastis, warna kulit kuning langsat, tidak ada hiperpigmentasi dan
bersih, sianosis (-)
Ø Kepala :Bentuk
kepala mesosephal, bersih, tidak berbau, tidak ada lesi, rambut hitam ikal.
Ø Mata :Reflek
pupil simetris, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikteric,
Ø Hidung :
Simetris, bersih, tidak ada polip hidung, cuping hidung ada.
Ø Telinga :
Simetris, bersih, tidak ada tanda peradangan ditelinga/ mastoid. Cerumen tidak
ada,
Ø Mulut :
Bibir tidak cyanosis, mukosa mulut lembab, tonsil tidak membesar, tidak ada
stomatitis dan gigi masih genap.
Ø Leher :
Tidak terdapat pembesaran kelenjar thiroid, tidak ditemukan distensi vena
jugularis. Otot leher tegang.
Ø Dada :
1. Paru-paru
Ø Inspeksi
: Bentuk simetris, pergerakan dada sewaktu bernafas tidak simetris, peningkatan
frekuensi pernafasan.
Ø Palpasi
: tactil fremitus tidak normal.
Ø Auskultasi : Bunyi napas
2. Perut :
Ø Bentuk perut
simetris, tidak ditemukan adanya massa, tidak ditemukan distensi abdominal dan
tidak ada pembesaran hepar dan bising usus normal.
Ø Ekstrimitas
: Seluruhnya tidak terjadi oedema
1.3.Pemeriksaan
Diagnostik
Pemeriksaan
hematologi:
25/3/14 28/3/14 3/4/14 satuan
1. Hemoglobin : 11,80 10,90 11,70 g%
2.
Eritrosit :
4,04. 3,67 3,94 106/mm3
3.
Leukosit : 12,41 12,66 13,85 103/mm3
4.
Hematokrit :
35,10 31,90 34,50 %
5.
Trombosit :
369 . 191 258 103/mm3
6.
Mcv :
86,90 86,90 87,60 fL
7.
Mch :
29,20 29,70 29,70 pg
8.
Mchc :
33,60 34,20 33,90 g%
9.
Rdw :
13,70 12,80 12,90 %
10.
Mpv :
8,80 10,40 9,60 fL
11.
Pct :
0,33 0,20 0.25 %
12. Pdw : 10,0 12,5 10,8 fL
Analisa
Gas darah
25/3/14 1/4/14 2/4/14 Satuan
1. pH : 7,35 7,42 7,47 mmHg
2.
pCO2 : 24,3 38,1 33,9 mmHg
3.
pO2 :109,8 171,6 184,7 mmol/L
4.
HCO3 :13,1 24,5 24,6 mmol/L
5.
Total CO2 :13,9 25,7 25,6
6.
BE :
-11,3 0,2 1,2 mmol/L
7. Saturasi O2 :97,7 99,5 99,7 %
Hasil
Pemeriksaan Radiologi (3 Maret 2014) yaitu adanya perselubungan di sinus
ethmoid dan sphenoid, DD: sinusitis dan hematosinus. Soft tissue swelling
region parietal kiri. Tak tampak tanda perdarahan intracranial.
Hasil
CT-Scan Head tanpa Kontras (4 Maret 2014) yaitu tidak tampak intracerebral
lainnya.
Hasil
Pemeriksaan Radiologi Thorax dewasa PA:
1. 20 Maret 2014 Efusi pleura kanan , ujung tracheal tube
setinggi vertebra thoracal 3-4.
2. 24
Maret 2014 yaitu Efusi pleura bilateral terutama kanan dengan proses infeksi
trakeostomi dengan ujung stoma setinggi C7-Th1.
Program
terapi dokter:
1.
IVFD RL 20 gtt
2.
Fentanyl 500 µg + 50
cc NaCl 0,9%= 3 cc/jam
3.
Ceftriaxone 1 gr/ 12
jam
4.
Ranitine 50 mg/ 12
jam
5.
Keterolac 30 mg / 18
jam
6.
Vit. C 1 gr/ 24 jam
7.
Natur-E
8.
Diazepam 10 mg/ IV
diberikan setiap kejang
9.
Citicolin 250mg/ 12
jam
1.2.
Diagnosa Keperawatan
1.
Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d obstruksi jalan nafas, mucosa skret
berlebihan.
2.
Gangguan pertukaran gas b/d perubahan membran kapiler - alveolar
3.
Intoleransi aktifitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan
kebutuhan
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d
intake nutrisi inadekuat, faktor biologi,
5.Risiko
infeksi b/d tidak adekuat pertahanan tubuh dan prosedur invasiv
1.3.Intervensi
Keperawatan
No
|
Diagnosa
|
Intervensi
|
1
|
Bersihan
jalan nafas tidak efektif b/d banyaknya secret mucus.
|
Ø Keluarkan lendir dengan suction
Ø Asukultasi suara nafas
Ø Atur posisi untuk mengurangi
dyspnea
Ø Monitor respirasi dan status
oksigen jika memungkinkan
Ø Tentukan kebutuhan suction melalui
ETT
Ø Auskultasi suara nafas sebelum dan
sesudah suction
Ø Monitor status O2
pasien dan status hemodinamik sebelum, selama, san sesudah suction.
Ø Bersihkan daerah atau area stoma
trachea setelah dilakukan suction trachea.
|
2
|
Gangguan
pertukaran gas b/d perubahan membran kapiler - alveolar
|
Ø Atur posisi untuk mengurangi
dispneu
Ø Monitor frekuensi nafas b/d
penyesuaian oksigen
Ø Monitor kecepatan,irama, kedalaman
dan upaya bernafas
Ø Catat pergerakan dada, lihat
kesimetrisan dada, menggunakan alat bantu dan retraksi otot intercosta
Ø Posisikan pasien untuk perfusi
ventilasi yang optimum
Ø Pertahankan kebersihan jalan udara
(suction dan terapi dada)
Ø Monitor pola respiorasi
|
3
|
Intoleransi
aktifitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan
|
Ø Monitor
gejala intoleransi aktivitas
Ø Lakukan
latihan ROM pasif jika klien tidak
dapat menoleransi aktivitas
|
4
|
Ketidak
seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidak
mampuan pemasukan b.d faktor biologis
|
Ø tingkatkan intake protein, zat besi
dan vit c
Ø Monitor pemberian makanan
melalui sonde
Ø Monitor pemberian masukan cairan
lewat parenteral
Ø monitor penurunan dan peningkatan
BB
Ø monitor intake kalori dan gizi
|
5
|
Risiko
infeksi b/d penurunan imunitas tubuh, prosedur invasive
|
Ø Batasi pengunjung.
Ø Bersihkan lingkungan pasien secara
benar setiap setelah digunakan pasien.
Ø Cuci tangan sebelum dan sesudah
merawat pasien, dan ajari cuci tangan yang benar.
Ø Berikan therapi antibiotik yang
sesuai, dan anjurkan untuk minum sesuai aturan.
Ø Pastikan penanganan aseptic semua
daerah IV (intra vena)
Ø Lakukan
Ganti perban pada ETT
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar